BOGOR, SOKSIMEDIA – Rencana penyelenggaraan festival mobil kuno dan festival sepeda dengan anggaran mencapai Rp 1,1 miliar dari APBD Kabupaten Bogor memantik gelombang kritik pedas dari warganet. Berita yang awalnya disoroti oleh aktivis Bogor, Pertanyakan, yang mendesak aparat untuk mengusut dugaan pemborosan anggaran, kini menjadi sorotan viral di media sosial.
Postingan yang berisi desakan agar aparat menindaklanjuti dugaan pemborosan APBD untuk sebuah event tersebut telah mengundang lebih dari 21 komentar dari berbagai akun netizen. Komentar-komentar yang bermunculan mayoritas menyoroti ketidaktepatan penggunaan dana publik di tengah berbagai persoalan mendesak yang dihadapi masyarakat.
Kritik bermunculan dari berbagai sudut. Seorang netizen dengan akun M MUCKSHIN secara retoris mempertanyakan, “Bogor kan terkenal wisata, ya seharusnya ekonomi pun merata, tapi anehnya menurut survei angka kemiskinan masyarakat terbanyak peringkat 1 di KB Bogor di antara KB lain.” Komentar ini menyiratkan kesenjangan antara potensi daerah dan realita kemiskinan yang ada.
Anggur Kang Zen dengan tegas menyatakan, “Lebih bermanfaat buat obat rumah sakit yang sering kosong.” Pendapat ini mendapat banyak dukungan, mencerminkan keprihatinan publik terhadap kondisi fasilitas kesehatan.
Sementara itu, es teler sultan mengingatkan untuk membenahi infrastruktur, “Harusnya benahi jembatan yang rusak dan yang punya akses ke kota ikuti jejak Bapak Has.”
Netizen Iwanbintun secara spesifik mengkritik tema festival, “Buat apa… festival mobil… mending 1M, buat bedah rumah warga,” yang menyoroti alternatif penggunaan dana yang dianggap lebih langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Beberapa komentar lain seperti dari bang_rivky, “Aduh Kabupaten Bogor lagi, udah ga asing ini mah,” dan Petualang_GILA yang hanya menyebut “waduh..”, menggambarkan kekecewaan dan sikap skeptis masyarakat terhadap pengelolaan anggaran di wilayah tersebut.
Komentar dari Batujajar 1969, “Ungkap dong… jangan teriak-teriak aja,” merepresentasikan desakan agar tidak hanya berhenti pada protes di media sosial, tetapi ada tindakan nyata dan transparansi dari pihak berwenang.
Sebaliknya, ada juga komentar yang mencoba mengingatkan tanggal pelaksanaan, seperti dari Acep Supriadi, “tgl 29 November kan pelaksanaannya ya?” serta permintaan dari Lis retno mengenai penyerapan tenaga kerja, yang menunjukkan bahwa meski dikritik, ada pula masyarakat yang masih mengikuti perkembangan acara tersebut.
Fakta yang beredar adalah adanya rencana event dengan anggaran signifikan sebesar Rp 1,1 miliar. Respons publik di ruang digital, sebagaimana terlihat dari komentar-komentar tersebut, secara faktual menunjukkan prevalensi suara yang menilai alokasi dana ini tidak sesuai dengan prioritas kebutuhan mendesak daerah, seperti penanganan kemiskinan, perbaikan infrastruktur, dan peningkatan layanan kesehatan.
Tegasnya, viralnya isu ini menjadi barometer sikap kritis masyarakat terhadap pengelolaan keuangan daerah. Sorotan ini menuntut jawaban yang akurat dan tindakan yang tepat dari pemangku kebijakan untuk memastikan setiap rupiah APBD benar-benar digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan pada hal-hal yang dianggap bersifat hiburan semata dan kurang esensial.
(iel)
