Penulis : Tonny Saritua Purba
Jakarta | SoksiMedia.Com – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS secara signifikan berdampak kepada industri makanan, terutama pelaku industri mie instan dan tahu tempe yang bahan bakunya sangat bergantung impor. Kondisi ini mengakibatkan biaya produksi naik akibat mahalnya harga bahan baku.
Berdasarkan data BPS mencatat bahwa kebutuhan gandum nasional, hampir seluruhnya dipenuhi melalui impor, rata-rata impor di atas 10 juta ton per tahun. Pada tahun-tahun terakhir, impor gandum berfluktuasi antara 10 sampai 11 juta ton lebih, dengan tren meningkat akibat tingginya permintaan industri mie, roti dan makanan olahan.
Untuk kebutuhan kedelai nasional berkisar antara 2,5 hingga 3 juta ton per tahun. Sebagian besar kebutuhan ini dipenuhi melalui impor, dengan rata-rata volume impor mencapai 2,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri masih terbatas dan jauh di bawah total kebutuhan, hanya sekitar 350 ribu ton berdasarkan data BPS tahun 2023.
Dampak pelemahan rupiah terhadap pelaku Industri tahu tempe
Industri tahu tempe merupakan salah satu sektor yang paling rentan, karena hampir seluruh kedelai di Indonesia berasal dari impor. Pelemahan rupiah membuat harga kedelai impor dari Amerika Serikat melonjak, yang langsung menaikkan beban produksi.
Pengrajin tahu tempe dihadapkan pada sebuah kondisi harus menaikkan harga jual yang berisiko akan menurunkan omzet atau pengrajin tahu tempe memperkecil ukuran produknya dengan tujuan untuk mempertahankan keuntungan.
Akan terjadi lonjakan harga yang sulit terkendali akan memicu pengrajin tahu tempe melakukan aksi mogok produksi atau mengurangi volume produksi.
*Dampak pelemahan rupiah terhadap pelaku industri mie instan*
Pelaku industri mie instansangat bergantung kepada impor gandum sebagai bahan baku membuat tepung terigu. Adanya kenaikan harga gandum akan meningkatkan biaya impor yang mengakibatkan kenaikan harga tepung terigu sebagai bahan baku utama mie instan.
Produsen terpaksa menaikkan harga jual mie instan di pasaran untuk menutupi biaya produksi yang dampaknya terasa hingga kepada daya beli masyarakat.
Bagi perusahaan dengan skala besar mungkin mampu bernegosiasi dengan pihak distributor, namun bagi produsen mie instan yang lebih kecil akan lebih cepat terkena dampaknya yaitu penurunan keuntungan
Dampak secara umum bagi pelaku industri tahu tempe dan mie instan adalah berpotensi kehilangan daya saing jika harga naik terus, termasuk juga daya beli masyarakat semakin lemah. Pelaku usaha terpaksa mencari bahan baku alternatif yang lebih murah atau melakukan efisiensi ketat untuk bertahan.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan penurunan volume penjualan karena pelaku industri pangan manufaktur cemas akan kelangsungan bisnis akibat depresiasi rupiah yang tajam
Bagaimana upaya pemerintah mengatasi ketergantungan impor gandum, kedelai dan pelemahan rupiah ?
Pemerintah bersama dengan pelaku industri bersama dengan petani harus bermitra dan bergotong royong, perlu ada sebuah inovasi serta libatkan petani untuk menanam singkong sebagai alternatif untuk bahan baku tepung dan menanam kedelai lokal
Saat ini ketergantungan impor gandum hampir 100 persen dan kedelai sekitar 90 persen, ketergantungan impor sangat beresiko jika terjadi pelemahan Rupiah dan adanya konflik geopolitik.
Nigeria adalah contoh sebuah negara yang berhasil mengembangkan tanaman singkong menjadi produk alternatif bahan baku industri untuk menghasilkan tepung yang diolah menjadi mie instan, roti, biskuit dan produk olahan lainnya.
Nigeria bukan hanya berhasil meminimalisir impor gandum tapi juga berhasil menciptakan lapangan pekerjaan, membangub indistrialisasi mulai dari bahan baku sampai menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi yang bermanfaat bukan hanya kepada pelaku industri tapi juga mengembangkan tanaman lokal, membangun perekonomian negara dan petani.
Penulis :
– Fungsionaris DPP Partai Golkar
– Ketua Bidang Tani dan Nelayan Depinas SOKSI
