• Sen. Feb 16th, 2026

SENTRAL ORGANISASI KARYAWAN SWADIRI INDONESIA

Pengamat Kebudayaan, Putu Suasta Ditemani Valentino Barus dan Joni Suhartawan Dari Arena Festival Shiva 2026.

ByMTPM 01

Feb 16, 2026

Memetik Manfaat dari Prambanan Shiva Festival

BALI – SOKSIMEDIA.COM | Shiva Festival di Prambanan dengan berbagai rangkaian kegiatan ibadah usai sudah. Para peserta dari berbagai daerah kembali pulang membawa kesan dan kenangan spiritualitas Hindu.

Paling tidak terdapat dua hal penting yang dapat dipetik dari festival tersebut, yaitu; pentingnya mengelola perbedaan mazhab atau aliran di internal Hindu secara lebih positif dan meningkatkan perhatian dan perlunya merawat kesadaran masyarakat untuk terus menjaga lingkungan dan alam, terutama air sebagai sumber kehidupan manusia, demikian Putu Suasta, tokoh pendiri Peradah dan KMHD, di kawasan Prambanan (12/02/’26).

Kegiatan Shiva Festival di Prambanan menghadirkan umat Hindu dari berbagai daerah di nusantara, seperti Bali, Lombok, Kalimantan Tengah, Lampung, Palu hingga Sumatra Utara. Salah satu kegiatan utamanya adalah melakukan ruwat alam, dengan menyatukan dan menyucikan air yang bersumber dari 35 mata air dari seluruh nusantara. Setelah disatukan, sebagai perlambang dan harapan lestarinya NKRI, air tersebut didoakan untuk kemudian diperciki di sekitar candi Prambanan.

Selain lambang air, festival di akhiri dengan doa dan parade lilin, api, oleh para peserta mengelilingi pelataran candi.

Prambanan Shiva Festival juga diisi dengan diskusi yang menghadirkan pembicara dari berbagai negara, diantaranya;
– Prof. Dr. R. Prabhu (India) – Ahli Sejarah Hindu
– Dr. Li Wei (China) – Ahli Budaya Cina
– Dr. Somchai Wongwises (Thailand) – Ahli Agama Buddha
– Prof. Dr. I Gusti Ngurah Suryawan (Indonesia) – Ahli Sejarah Prambanan
– Dr. Prabudarmayasa (Indonesia) – Ahli Teologi Hindu
– Dr. Sugilanus, pakar lontar dari Leiden
Berperan sebagai pemantik adalah Dr. Andi Arsana dari UGM.

Diskusi antara lain menghasilkan pemikiran tentang perlunya peningkatan kesadaran umat Hindu dalam menjaga hubungan dan harmoni antara manusia dengan alam dan sang pencipta. Pencemaran lingkungan telah menyebabkan berbagai bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, sehingga manusia perlu kembali ke alam dan melakukan instrospeksi dan aksi pembangunan yang ramah ekologis.

Juga muncul pemikiran dan aksi tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber hidup dan kehidupan manusia, sebagaimana ditunjukkan dalam serat Weda dan lingkungan ekologis Prambanan.

Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari Shiva Festival ini diantaranya;
– Mengembalikan kesadaran masyarakat akan peran dan posisi Candi Prambanan sebagai episentrum Hindu nusantara yang telah berlangsung sejak tahun 770 Masehi.
– Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan alam
– Memperkuat hubungan antara umat Hindu dari berbagai aliran dan negara
– Meningkatkan pariwisata dan ekonomi lokal
– Menampilkan keindahan budaya dan spiritualitas Hindu kepada dunia
– Memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk belajar dan memahami lebih dalam tentang agama Hindu

Putu Suasta melanjutkan bahwa penyelenggaraan Prambanan Mahashiva Festival menjadi momentum penting untuk menyikapi perbedaan mazhab dan aliran di internal Hindu nusantara secara dewasa dan positif. Sikap demikian memungkinkan umat Hindu untuk memberikan kontribusi dan sumbangsihnya secara lebih optimal dalam merajut persatuan nasional menuju cita-cita Indonesia Emas.

Prambanan Shiva Festival bukan hanya sebuah acara ritual keagamaan. “Kegiatan Prambanan Shiva Festival adalah juga sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran dan harmoni di tengah masyarakat yang plural,” pungkas Putu. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *