Jakarta – SoksiMedia.Com
“Potensi pariwisata suatu daerah sangat lekat dipengaruhi hubungan harmonis antar elemen Tri Hita Karana, yaitu: Tuhan, manusia dan alam lingkungan. Pencemaran yang mengakibatkan terganggunya hubungan harmonis itu niscaya akan mempengaruhi keberhasilan pembangunan pariwisata.” Demikian Pemerhati Lingkungan Sosial, Putu Suasta, MA (3/1/’26) di Denpasar terkait keresahan sampah yang kembali menyeruak hari-hari ini.
Diskursus mengenai sampah kembali mengemuka ketika Presiden Prabowo menyinggung hal ini dihadapkan para kepala daerah peserta Rakornas 2026. “Wisatawan yang hendak menikmati keindahan nusantara akan kecewa karena destinasi wisata kumuh dan kotor dipenuhi sampah,” demikian Presiden Prabowo. “semestinya pemda tidak kesulitan menangani masalah ini karena mereka bisa menggerakkan potensi ASN, militer, polisi, dan masyarakat di daerahnya,” lanjut Kepala Negara.

Menanggapi koreksi dan arahan Presiden Prabowo, Gubernur Bali, Wayan Koster mengucapkan terimakasih dan akan segera membentuk satgas yang terdiri dari berbagai elemen yang senantiasa siap membersihkan sampah di Bali, utamanya di pantai Kuta. “…pada musim tertentu, seperti Desember, Januari dan Februari pantai di Bali senantiasa dibanjiri sampah dari luar daerah”. “Penumpukan sampah lewat laut ini biasanya berlangsung cepat karena dibawa arus”. “Sesuai arahan Presiden, nanti akan kita pantau dan angkut sampah itu secara rutin,” lanjut Koster.
Arahan Presiden Prabowo tentu bukan hanya ditujukan ke Bali, tetapi ke seluruh wilayah Indonesia, terutama kota-kota besar. Namun, sikap tanggap masyarakat di Bali segera terlihat sehari sesudahnya. Sekitar 2.500 relawan gabungan tentara, Polri, pemda, pelajar hingga masyarakat menggelar aksi bersih sampah di Pantai Kuta dan Pantai Kedongan.
Aksi bersih-bersih yang dipimpin jajaran Kodam IX/Udayana ini berhasil mengumpulkan
sekitar 10 ton sampah dari lokasi tersebut. Sampah yang didominasi sampah organik itu langsung diangkut ke TPA Suwung.
“…aksi ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan pantai Bali agar tetap indah dan ramah wisatawan” tegas para relawan.
Menyikapi arahan Presiden dan sikap tanggap Gubernur Koster, Putu Suasta kembali menguraikan pentingnya pengembangan dan pemeliharaan sektor pariwisata nusantara yang senantiasa merawat harmoni dan sinergis antara keramahan manusia dan lingkungannya. Keramahan manusia ditandai dengan hospitality masyarakatnya, sedangkan keramahan lingkungan antara lain ditandai dengan lalulintas yang lancar dan kebersihan dari sampah.
Semoga ke depan “momok utama pariwisata Bali yaitu masalah sampah dan kemacetan, dapat solusi penanganan tepat,” pungkas alumnus UGM dan Cornell university itu. (RED)
